Mahasiswa PMI IPMAFA Salurkan Air Bersih ke Empat Desa Terdampak Kekeringan
- account_circle Silvy
- calendar_month Senin, 12 Okt 2026
- visibility 46
- comment 0 komentar
- print Cetak
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Patinesia.com – Mahasiswa Program Studi Pengembangan Masyarakat Islam (PMI), Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA), kembali menyalurkan bantuan air bersih kepada masyarakat terdampak kekeringan di empat desa di Kabupaten Pati, Minggu (11/10/2026). Dalam distribusi tahap kedua ini, bantuan disalurkan ke Desa Treteg dan Kletek, Kecamatan Pucakwangi, serta Desa Mojoluhur dan Ronggo, Kecamatan Jaken.
Kegiatan ini merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih akibat kemarau panjang. Selain membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari, kegiatan tersebut juga menjadi upaya untuk mendorong perhatian berbagai pihak terhadap persoalan kekeringan yang terus berulang setiap tahun.
Koordinator lapangan, Burhanudin, menjelaskan bahwa distribusi tahap kedua difokuskan pada empat desa yang mengalami kekeringan ekstrem. Sebelum penyaluran dilakukan, tim mahasiswa terlebih dahulu mengadakan survei untuk memetakan wilayah yang paling membutuhkan bantuan air bersih.
“Pada distribusi tahap kedua ini, kami memfokuskan bantuan ke empat desa yang selama ini mengalami kekeringan ekstrem. Sebelum penyaluran, kami melakukan survei terlebih dahulu untuk mengetahui wilayah yang paling membutuhkan bantuan air bersih,” jelas Burhanudin.
Ia menambahkan, untuk mendukung kelancaran kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan penggalangan dana secara swadaya dengan melibatkan sejumlah alumni dan kolega. Melalui upaya tersebut, mahasiswa berusaha menjangkau masyarakat yang terdampak dan membutuhkan pasokan air bersih.
“Alhamdulillah, melalui swadaya dan donasi dari beberapa alumni serta kolega, kami dapat ikut membantu masyarakat yang terdampak kekeringan,” imbuhnya.
Kekeringan Panjang Menambah Beban Ekonomi Warga
Di Desa Mojoluhur, Kecamatan Jaken, kekeringan tidak hanya menyulitkan masyarakat dalam memperoleh air bersih, tetapi juga menambah beban ekonomi keluarga. Sawi, salah seorang warga, menjelaskan bahwa masyarakat setempat masih kesulitan mendapatkan air bersih setiap musim kemarau. Ketika bantuan tidak tersedia, warga terpaksa membeli air yang dijual dalam wadah biru atau drum dengan harga sekitar Rp25.000 per drum.
Air tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga, seperti memasak dan mandi. Sementara itu, untuk kebutuhan minum, warga memilih membeli air galon.
Kondisi tersebut semakin memberatkan masyarakat, terutama warga yang bekerja sebagai petani. Kekeringan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air, tetapi juga memengaruhi penghasilan mereka akibat gagal panen. Di tengah menurunnya pendapatan, warga tetap harus mengeluarkan biaya tambahan untuk memenuhi kebutuhan air bersih.
Upaya Swadaya Belum Mampu Mengatasi Kekeringan
Masyarakat Desa Mojoluhur sebenarnya telah melakukan berbagai upaya untuk menghadapi kekeringan. Salah satunya dengan membangun embung untuk menampung air. Warga juga berusaha menyimpan persediaan air sesuai dengan kemampuan masing-masing agar kebutuhan rumah tangga tetap terpenuhi selama musim kemarau.
Namun, upaya tersebut belum mampu mengatasi persoalan air bersih ketika kemarau berlangsung panjang. Berdasarkan keterangan warga, wilayah setempat juga tidak memiliki sumber mata air yang dapat diandalkan, meskipun pencarian sumber air telah dilakukan.
Warga berharap adanya perhatian dan langkah nyata dari pemerintah untuk mengatasi persoalan tersebut. Keterbatasan sumber air yang terus berulang setiap tahun menunjukkan bahwa penanganan kekeringan tidak cukup hanya mengandalkan bantuan darurat atau upaya swadaya masyarakat.
Ketika mahasiswa PMI IPMAFA datang membawa bantuan air bersih, warga menyambutnya dengan penuh rasa syukur dan terima kasih. Sambutan tersebut mencerminkan betapa pentingnya pasokan air bagi masyarakat yang selama ini harus berjuang memenuhi kebutuhan dasar mereka.
Bagi warga, bantuan air bersih bukan sekadar bantuan sesaat, melainkan dukungan nyata di tengah situasi sulit. Meski demikian, masyarakat tetap membutuhkan sistem penyediaan air bersih yang dapat diakses secara berkelanjutan agar tidak selalu bergantung pada bantuan setiap musim kemarau.
Dosen Pendamping Dorong Penyediaan Air Bersih Berkelanjutan
Dosen pendamping lapangan, Siswanto, menyampaikan bahwa kebutuhan air bersih merupakan kebutuhan mendasar yang harus dipenuhi setiap keluarga. Air tidak hanya diperlukan untuk minum, tetapi juga untuk memasak, mandi, dan berbagai aktivitas rumah tangga lainnya.
Menurutnya, distribusi air bersih yang dilakukan mahasiswa merupakan langkah penting untuk membantu masyarakat dalam situasi darurat. Namun, bantuan tersebut perlu diikuti dengan upaya yang lebih sistematis agar persoalan kekeringan dapat ditangani secara berkelanjutan.
“Bantuan air bersih sangat dibutuhkan masyarakat saat ini. Namun, ke depan, kami berharap pemerintah dapat menghadirkan solusi yang lebih permanen, misalnya melalui pembangunan sarana penyediaan air bersih yang dapat diakses masyarakat secara berkelanjutan,” ujar Siswanto.
Ia mendorong pemerintah daerah untuk mengkaji pembangunan sarana penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (PAMSIMAS) atau infrastruktur air bersih lainnya yang sesuai dengan kondisi geografis dan ketersediaan sumber air di wilayah terdampak.
Menurutnya, pembangunan sarana air bersih harus didasarkan pada kajian teknis yang memadai, terutama untuk memastikan ketersediaan sumber air sepanjang tahun. Selain itu, perencanaan perlu melibatkan masyarakat agar sistem pengelolaan, pemeliharaan, dan pemanfaatannya dapat berjalan secara optimal.
Persoalan kekeringan di Desa Mojoluhur memperlihatkan bahwa keterbatasan air bersih berkaitan erat dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Ketika sumber air sulit diperoleh dan warga harus membeli air untuk kebutuhan sehari-hari, beban ekonomi keluarga semakin meningkat, terutama bagi petani yang mengalami penurunan pendapatan akibat gagal panen.
Melalui kegiatan distribusi air bersih ini, mahasiswa PMI IPMAFA berharap dapat meringankan beban masyarakat sekaligus mendorong keterlibatan berbagai pihak dalam penanganan kekeringan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, masyarakat, alumni, dan pemerintah diharapkan dapat membuka jalan bagi solusi jangka panjang sehingga masyarakat tidak terus menghadapi persoalan air bersih setiap musim kemarau. (Silvy)
- Penulis: Silvy
