Bapperida Jepara Dorong Mahasiswa KKN IPMAFA Kembangkan Potensi Desa melalui Digitalisasi
- account_circle Zaenal Arifin
- calendar_month Selasa, 3 Nov 2026
- visibility 6
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
PATI – Perwakilan Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Jepara, Elly Widyastuti, mendorong mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Institut Pesantren Mathali’ul Falah (IPMAFA) tahun 2026 untuk mengoptimalkan potensi lokal desa melalui inovasi, pemberdayaan, dan pemanfaatan teknologi digital.
Hal tersebut disampaikan Elly Widyastuti yang menjabat sebagai Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah (Kabid RIDA) Bapperida Kabupaten Jepara saat memberikan sambutan dalam kegiatan penerjunan KKN IPMAFA di Aula 1 Kampus IPMAFA, Senin (2/11/2026).
Dalam sambutannya, Elly menyampaikan dua pesan penting kepada mahasiswa. Pertama, mahasiswa harus mampu menyerap ilmu pengetahuan selama proses perkuliahan dan menularkannya kepada masyarakat. Kedua, selama 45 hari pelaksanaan KKN, mahasiswa diharapkan konsisten menjalankan program kerja yang telah direncanakan.
Ia menilai tema KKN tahun ini, “Desa Berdaya Berbasis Potensi Lokal: Industri, Pertanian, dan Pariwisata”, merupakan tema besar yang membutuhkan kesungguhan dan kreativitas mahasiswa dalam mengimplementasikannya di lapangan.
Menurutnya, konsep desa berdaya bukan berarti masyarakat sebelumnya tidak memiliki kemampuan atau potensi. Sebaliknya, pemberdayaan merupakan upaya mengembangkan berbagai aset yang telah dimiliki masyarakat agar menjadi keunggulan dan memiliki nilai ekonomi.
“Pemberdayaan bukan berarti masyarakat kita tidak berdaya. Namun, bagaimana kita mampu mengembangkan sesuatu yang sudah dimiliki desa menjadi potensi unggulan yang bisa kita kembangkan dan pasarkan,” ungkapnya.
Elly juga menyoroti pentingnya penguasaan teknologi digital dalam mendukung pengembangan potensi desa. Menurutnya, kemudahan akses digital saat ini memberikan peluang besar dalam pemasaran produk dan penyebaran informasi. Namun, masyarakat juga perlu dibekali pemahaman agar mampu menggunakan teknologi secara bijak dan terhindar dari berbagai risiko, seperti penipuan digital, promosi yang tidak bertanggung jawab, hingga kerugian finansial.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk turut memberikan edukasi digital kepada masyarakat desa agar tidak tertinggal dalam perkembangan teknologi dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
“Sekarang dunia digital harus kita kuasai, tetapi kita juga harus berhati-hati. Mahasiswa diharapkan dapat mengajarkan pemanfaatan teknologi digital yang baik kepada masyarakat agar mereka tidak gagap teknologi dan mampu mengambil manfaatnya,” jelasnya.
Lebih lanjut, Elly mengapresiasi persiapan mahasiswa yang telah menyusun perangkat dan program kerja sebelum diterjunkan ke masyarakat. Menurutnya, perencanaan yang matang akan mempermudah proses implementasi program di lapangan, terutama ketika mahasiswa telah mengenali potensi yang tersedia di wilayah penempatan.
Ia mencontohkan pengembangan sektor pertanian di Kecamatan Bangsri. Menurutnya, mahasiswa dapat mendorong keterlibatan generasi muda dalam sektor pertanian melalui inovasi budidaya, seperti hidroponik, sekaligus menghubungkannya dengan pemasaran digital.
“Kami berharap bukan hanya bapak-bapak yang bertani, tetapi generasi muda juga mulai tertarik dan terlibat dalam dunia pertanian. Misalnya, mengembangkan pertanian hidroponik, kemudian hasil panennya dipasarkan melalui jaringan digital. Ketika produk pertanian sudah memiliki kualitas yang baik, tinggal bagaimana kita menampilkan dan memasarkannya melalui akun digital sehingga jangkauan pasarnya semakin luas,” paparnya.
Ia juga memberikan contoh perkembangan pertanian kopi di Desa Tempur, Kabupaten Jepara. Menurutnya, keterlibatan generasi muda dalam mengembangkan usaha kopi menunjukkan bahwa sektor pertanian memiliki peluang ekonomi yang menjanjikan apabila dikelola dengan inovasi dan kreativitas.
Selain pertanian, Elly menekankan pentingnya mengembangkan pariwisata yang terintegrasi dengan pengelolaan lingkungan. Salah satu gagasan yang dapat dikembangkan mahasiswa adalah wisata berbasis pengelolaan bank sampah.
Ia menjelaskan bahwa sampah, termasuk botol plastik bekas air mineral, masih memiliki nilai ekonomi apabila dipilah dan dikelola dengan baik. Tutup botol, label, dan badan botol dapat dipisahkan untuk dimanfaatkan atau dipasarkan sesuai jenis materialnya.
“Pariwisata juga perlu dikembangkan dengan memperhatikan kebersihan lingkungan. Misalnya, melalui pengelolaan bank sampah. Sampah botol mineral bisa dipilah antara tutup, label, dan botolnya karena masing-masing memiliki nilai ekonomi. Dengan pengelolaan yang baik, lingkungan menjadi lebih bersih, asri, dan elok sehingga mendukung daya tarik wisata desa,” tambahnya.
Pada akhir sambutannya, Elly berpesan agar mahasiswa tidak hanya berfokus pada program-program ekonomi, tetapi juga memperhatikan potensi sosial dan keagamaan masyarakat. Mahasiswa yang memiliki kemampuan dalam bidang keagamaan diharapkan dapat berbagi ilmu kepada masyarakat melalui kegiatan pendidikan dan keagamaan.
“Kalau di antara mahasiswa ada yang memiliki kemampuan mengaji, tularkan ilmunya kepada masyarakat. Apa pun ilmu dan kebaikan yang disampaikan akan sangat bermanfaat, bukan hanya untuk hari ini dan hari esok, tetapi juga untuk kehidupan akhirat,” pesannya.
Kegiatan penerjunan KKN IPMAFA tahun 2026 tersebut dihadiri oleh perwakilan Kecamatan Margorejo, perwakilan Bapperida Kabupaten Jepara, segenap civitas akademika IPMAFA, serta seluruh mahasiswa peserta KKN.
Melalui pesan tersebut, Bapperida Jepara berharap kehadiran mahasiswa KKN IPMAFA dapat menjadi penggerak inovasi di tingkat desa, khususnya dalam mengembangkan sektor industri, pertanian, dan pariwisata berbasis potensi lokal dengan dukungan teknologi digital dan kesadaran lingkungan. (Sis)
- Penulis: Zaenal Arifin
